*l
Kisah di Samsat Cikokol: Selisih Rp100 Ribu x 50 Kendaraan Sehari = Berapa Pungli Sebulan?
*TANGERANG, http://Swaranusa7.com* – Pengalaman tidak menyenangkan yang Say alami saat mengurus balik nama kendaraan roda 4 di Samsat Cikokol, Sabtu12 September 2026. Saya diminta membayar lebih dari ketentuan dan diwajibkan menggunakan uang tunai.
Saya datang ke Samsat Cikokol dengan tujuan balik nama kendaraan dari Tangerang ke Jakarta. Saya langsung menuju lantai dua. Seorang pengunjung lain menyarankan agar saya mengambil nomor antrean di lantai bawah terlebih dahulu.
Setibanya saya di lantai satu, tanpa menanyakan keperluannya, seorang petugas di counter langsung mengarahkan saya untuk membeli map di area Pujasera.
Karena hari Sabtu pelayanan hanya setengah hari, saya bergegas menuju tempat fotokopi. Di sana, pegawai fotokopi justru bersikap lebih profesional.
“Ibu mau urus apa?” tanya pegawai fotokopi tersebut.
Setelah dijelaskan hendak balik nama roda 4, pegawai foto copy itu menyarankan untuk kembali ke pintu masuk agar diarahkan sesuai prosedur.
Saya pun kembali ke counter awal. Dengan nada bergurau saya menyampaikan protes, “Teteh, kenapa awal saya datang tidak ditanyakan keperluannya? Tukang fotokopi lebih cerdas dari Teteh, sebelum menyuruh beli map dia tanya dulu keperluannya untuk apa?”
Setelah itu petugas meminta berkas dan merapihkannya sesuai urutan, lalu mengarahkan ke loket pendaftaran cek fisik.Cek fisik sesuai tulisan *GERATIS*
Proses cek fisik selesai dan berkas melewati beberapa loket. Di loket terakhir, semua berkas ditinggal dan diminta membayar Rp350.000.
Padahal, sesuai ketentuan, biaya yang seharusnya dibayarkan adalah Rp250.000.
Saya yang tidak membawa uang tunai menawarkan pembayaran melalui debit atau m-banking. Namun petugas menolak dan mengarahkan agar mengambil uang tunai di ATM.
“Seketika terlintas di pikiran saya, zaman sekarang sudah canggih. Jajan di pinggir jalan, makan di warteg, belanja ke pasar saja bisa QRIS, debit, atau transfer. Kenapa Samsat masih harus pakai tunai?
Karena dikejar waktu, saya terpaksa membayar sesuai nominal yang disebutkan.
Siang harinya, saya melanjutkan agenda konferensi pers di Krimum Polda Jaya, Jakarta. Usai konpres, saya menanyakan prosedur biaya kepada rekan media. Rekan tersebut menyebut, biaya balik nama hanya Rp250.000 setelah mendapat ACC cek fisik di Samsat Gunung Sahari.
Minggu depannya Tri kembali lagi untuk ambil berkas dan uang yang masuk saya tanya krn saya sudah dijelaskan oleh rekan media dari Polda Metro Jaya bahwa saya dipungli.
Tidak menunggu tanpa ada perdebatan waktu lama , uang yang di pungli langsung dikembalikan.
“Ini yang jadi pertanyaan. Kenapa petugas Samsat minim informasi dan langsung menyebutkan nominal lebih tinggi dari yang semestinya?”
Saya pun menghitung dugaan potensi pungli. “Coba kalikan, kalau setiap hari ada 50 pemohon seperti saya yang kelebihan bayar Rp100.000. Itu baru satu hari. Kalau satu bulan, lumayan banyak pemasukan tidak resmi.”
Berharap pelayanan di Samsat Cikokol dievaluasi. Menurut saya, di tengah upaya pemerintah mendorong pembayaran non-tunai, praktik wajib tunai justru membuka celah pungutan liar.
“Inilah potret negeri kita. Di mana ada kesempatan tidak pernah dilewatkan, sementara masyarakat yang membutuhkan dikejar waktu,” tutupnya.
*(Swarantara.com /Nur Tanjung)*
